
Perbedaan Aqiqah dan Kurban: Pengertian, Hukum, dan Tujuannya
Apa perbedaan aqiqah dan kurban? Simak penjelasan lengkap mengenai pengertian, hukum, tujuan, waktu pelaksanaan, hingga ketentuan hewan menurut syariat Islam.
READ ARTICLEApa itu murabahah? Pelajari pengertian murabahah, cara kerja, contoh penerapan di bank syariah, dasar hukum, serta perbedaannya dengan sistem bunga bank.

Dalam dunia perbankan syariah, istilah murabahah merupakan salah satu akad yang paling sering digunakan. Ketika seseorang mengajukan pembiayaan untuk membeli rumah, mobil, motor, atau barang konsumtif melalui bank syariah, kemungkinan besar akad yang digunakan adalah akad murabahah.
Namun, masih banyak masyarakat yang bertanya, apa itu murabahah? Mengapa akad ini dianggap berbeda dengan sistem pinjaman berbunga di bank konvensional? Apakah murabahah benar-benar sesuai dengan syariat Islam?
Artikel ini akan membahas secara lengkap pengertian murabahah, dasar hukumnya, cara kerja, contoh penerapan, hingga kelebihan dan kekurangannya.
Murabahah adalah akad jual beli di mana penjual menyebutkan secara terbuka harga pokok barang beserta keuntungan (margin) yang disepakati dengan pembeli.
Dengan kata lain, pembeli mengetahui:
Dalam konteks perbankan syariah, bank membeli barang yang dibutuhkan nasabah terlebih dahulu. Setelah barang menjadi milik bank, bank menjualnya kepada nasabah dengan harga yang telah ditambah margin keuntungan yang telah disepakati sejak awal.
Karena merupakan akad jual beli, keuntungan yang diperoleh bank berasal dari margin penjualan, bukan dari bunga pinjaman.
Secara bahasa, kata murabahah (المرابحة) berasal dari kata ribh yang berarti keuntungan.
Sedangkan menurut istilah fikih, murabahah adalah akad jual beli suatu barang dengan menyebutkan harga perolehan barang serta keuntungan yang disepakati oleh kedua belah pihak.
Transaksi ini termasuk dalam kategori jual beli yang dibolehkan selama memenuhi rukun dan syarat yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Murabahah diperbolehkan dalam Islam karena termasuk bentuk jual beli yang halal.
Allah SWT berfirman:
"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
QS. Al-Baqarah: 275
Ayat ini menjadi landasan utama bahwa aktivitas perdagangan atau jual beli diperbolehkan selama dilakukan secara jujur, transparan, dan tidak mengandung unsur yang dilarang seperti riba, gharar (ketidakjelasan), maupun penipuan.
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga menganjurkan umat Islam untuk mencari penghasilan melalui perdagangan yang jujur.
Dengan demikian, murabahah menjadi salah satu akad yang banyak digunakan dalam ekonomi Islam karena memenuhi prinsip keadilan dan keterbukaan.
Agar lebih mudah dipahami, berikut alur sederhana akad murabahah di bank syariah.
Nasabah ingin membeli suatu barang, misalnya mobil dengan harga Rp250 juta.
Nasabah kemudian mengajukan pembiayaan kepada bank syariah.
Bank membeli mobil tersebut dari dealer sehingga mobil benar-benar menjadi milik bank terlebih dahulu.
Tahap ini penting karena bank tidak boleh menjual sesuatu yang belum dimilikinya.
Setelah mobil dimiliki, bank menjualnya kepada nasabah.
Misalnya:
Total harga jual menjadi Rp275 juta.
Harga tersebut disepakati di awal akad dan tidak berubah selama masa pembiayaan.
Nasabah dapat mencicil harga Rp275 juta sesuai jangka waktu yang telah disepakati.
Misalnya selama:
Jumlah cicilan tetap sampai lunas, selama tidak ada perubahan yang disepakati dalam akad.
Murabahah tidak hanya digunakan untuk pembelian rumah atau kendaraan.
Contohnya antara lain:
Pada semua contoh tersebut, bank membeli barang terlebih dahulu, kemudian menjualnya kepada nasabah dengan margin keuntungan yang telah diketahui bersama.
Banyak orang menganggap murabahah sama saja dengan kredit biasa karena sama-sama dilakukan secara cicilan.
Padahal terdapat beberapa perbedaan mendasar.
Murabahah | Kredit Konvensional |
|---|---|
Akad jual beli | Akad pinjam meminjam |
Keuntungan berupa margin | Keuntungan berupa bunga |
Harga disepakati di awal | Bunga dapat berubah sesuai kebijakan |
Bank menjual barang | Bank meminjamkan uang |
Mengikuti prinsip syariah | Menggunakan sistem bunga |
Perbedaan utama terletak pada akad yang digunakan.
Dalam murabahah, yang diperjualbelikan adalah barang, sedangkan dalam kredit konvensional objek utamanya adalah uang.
Agar sah menurut syariat, murabahah harus memenuhi beberapa rukun.
Pihak yang menjual barang.
Dalam pembiayaan syariah, penjual adalah bank.
Nasabah yang membeli barang.
Barang harus halal, jelas spesifikasinya, dan benar-benar dimiliki oleh penjual.
Harga pokok dan margin keuntungan harus diketahui secara jelas.
Harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak.
Selain rukun, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi.
Pembeli harus mengetahui harga asli barang.
Keuntungan yang diambil penjual tidak boleh disembunyikan.
Barang yang diperjualbelikan tidak boleh berupa barang haram menurut syariat.
Bank tidak boleh menjual barang sebelum memilikinya.
Seluruh transaksi harus bebas dari bunga dan praktik riba.
Murabahah menjadi akad yang paling populer karena memiliki sejumlah kelebihan.
Nasabah mengetahui total harga yang harus dibayar hingga lunas.
Tidak ada biaya tersembunyi.
Besaran cicilan biasanya tetap sesuai akad sehingga memudahkan perencanaan keuangan.
Bank menjelaskan harga pokok dan margin keuntungan secara terbuka.
Murabahah menghindari praktik riba dan menggunakan akad jual beli yang dibolehkan dalam Islam.
Meskipun memiliki banyak kelebihan, murabahah juga memiliki beberapa keterbatasan.
Jika harga pasar turun drastis, harga jual kepada nasabah tetap sesuai akad.
Murabahah lebih tepat digunakan untuk pembelian barang.
Untuk pembiayaan berbasis kerja sama usaha biasanya digunakan akad lain seperti mudharabah atau musyarakah.
Sebelum barang dijual kepada nasabah, bank harus terlebih dahulu memiliki barang tersebut sehingga terdapat risiko kepemilikan.
Pertanyaan ini sering muncul di tengah masyarakat.
Jawabannya, tidak sama, selama akad murabahah dilakukan sesuai prinsip syariah.
Perbedaan utamanya adalah:
Dalam murabahah, keuntungan diperoleh dari penjualan barang yang nyata, bukan dari meminjamkan uang.
Namun, praktik murabahah harus tetap mengikuti ketentuan syariah. Jika pelaksanaannya menyimpang, misalnya bank menjual barang yang belum dimiliki atau menyembunyikan informasi penting, maka akad tersebut dapat menjadi bermasalah.
Sebelum mengajukan pembiayaan murabahah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Dengan memahami akad secara benar, nasabah dapat menjalankan transaksi yang lebih aman dan sesuai prinsip syariah.
Murabahah adalah akad jual beli di mana penjual menginformasikan harga pokok barang beserta keuntungan yang diambil secara transparan. Dalam praktik perbankan syariah, bank membeli barang yang dibutuhkan nasabah terlebih dahulu, kemudian menjualnya kembali dengan margin keuntungan yang telah disepakati.
Berbeda dengan kredit berbunga, murabahah menggunakan akad jual beli sehingga keuntungan bank berasal dari margin penjualan, bukan bunga atas pinjaman uang. Karena itu, murabahah menjadi salah satu akad yang paling banyak digunakan dalam pembiayaan syariah, baik untuk pembelian rumah, kendaraan, maupun kebutuhan usaha.
Bagi masyarakat yang ingin menggunakan layanan bank syariah, memahami konsep murabahah menjadi langkah penting agar dapat bertransaksi sesuai dengan prinsip Islam, transparan, dan terhindar dari praktik riba.
Ya. Murabahah halal selama memenuhi rukun dan syarat jual beli dalam Islam, dilakukan secara transparan, serta bebas dari unsur riba, gharar, dan penipuan.
Murabahah menggunakan akad jual beli dengan keuntungan berupa margin yang disepakati di awal, sedangkan bunga bank merupakan tambahan atas pinjaman uang yang termasuk praktik riba menurut syariat.
Pada umumnya tidak. Harga jual dan jumlah cicilan telah disepakati sejak akad sehingga bersifat tetap, kecuali terdapat perubahan yang disetujui oleh kedua belah pihak sesuai ketentuan syariah.
Contoh yang paling umum adalah pembiayaan rumah (KPR Syariah), mobil, motor, alat usaha, mesin produksi, hingga berbagai barang konsumtif yang halal.

Apa perbedaan aqiqah dan kurban? Simak penjelasan lengkap mengenai pengertian, hukum, tujuan, waktu pelaksanaan, hingga ketentuan hewan menurut syariat Islam.
READ ARTICLE
Apakah aqiqah yang lewat dari hari ketujuh masih sah? Simak penjelasan lengkap berdasarkan hadis, pendapat ulama, dan waktu pelaksanaan aqiqah menurut syariat Islam.
READ ARTICLE
Ketahui jumlah kambing untuk aqiqah anak laki-laki dan perempuan menurut sunnah Rasulullah SAW, lengkap dengan dalil, pendapat ulama, dan ketentuan hewan aqiqah.
READ ARTICLE