Islamind
AllBeritaIbadahKajianTokohUncategorized
Diposting pada 09 Jun 2026Diedit pada 09 Jun 2026

Bagikan:

Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW

Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW tidak hijrah sendirian. Beliau ditemani oleh sahabat terbaiknya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Keduanya menempuh perjalanan yang penuh risiko dari Makkah menuju Madinah.

Namun, Rasulullah SAW tidak langsung menuju Madinah melalui jalur biasa. Beliau memilih strategi yang sangat cermat. Nabi dan Abu Bakar terlebih dahulu bersembunyi di Gua Tsur selama beberapa hari. Ini dilakukan agar pengejaran kaum Quraisy dapat diredam.

Kaum Quraisy mencari Nabi ke berbagai tempat. Bahkan, sebagian dari mereka sampai mendekati Gua Tsur. Dalam kondisi genting itu, Abu Bakar merasa khawatir jika mereka terlihat. Namun Rasulullah SAW menenangkan sahabatnya dengan penuh keyakinan kepada Allah.

Peristiwa di Gua Tsur mengajarkan bahwa usaha maksimal harus disertai tawakal yang kuat. Rasulullah SAW telah menyusun strategi dengan baik, tetapi tetap menggantungkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Setelah situasi lebih aman, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan menuju Madinah dengan bantuan penunjuk jalan yang memahami rute. Perjalanan hijrah bukan perjalanan mudah. Mereka melewati medan yang berat, cuaca panas, dan ancaman dari orang-orang yang ingin menangkap Rasulullah SAW.

Sambutan Penduduk Madinah

Setelah menempuh perjalanan panjang, Rasulullah SAW akhirnya tiba di wilayah Madinah. Kedatangan beliau disambut dengan penuh kegembiraan oleh kaum Muslimin. Penduduk Madinah yang dikenal sebagai kaum Anshar sangat mencintai Rasulullah SAW dan siap membantu kaum Muhajirin yang datang dari Makkah.

Madinah kemudian menjadi pusat dakwah Islam. Di kota ini, Rasulullah SAW membangun masyarakat Islam yang kuat berdasarkan iman, persaudaraan, keadilan, dan akhlak mulia.

Salah satu langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di Madinah adalah membangun masjid. Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, musyawarah, persaudaraan, dan pembinaan umat.

Selain itu, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Kaum Muhajirin adalah Muslim yang hijrah dari Makkah, sedangkan kaum Anshar adalah penduduk Madinah yang menolong mereka. Persaudaraan ini menjadi contoh luar biasa tentang kepedulian dan solidaritas dalam Islam.

Mengapa Hijrah Menjadi Dasar Kalender Hijriyah?

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, umat Islam membutuhkan sistem penanggalan yang jelas untuk urusan administrasi dan pemerintahan. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, dipilihlah peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai titik awal kalender Islam.

Pemilihan hijrah sebagai awal kalender Hijriyah memiliki makna yang sangat dalam. Hijrah adalah titik balik perjuangan Islam. Setelah hijrah, umat Islam tidak lagi hanya menjadi kelompok kecil yang tertindas di Makkah, tetapi mulai membangun masyarakat yang mandiri di Madinah.

Meskipun peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal, awal tahun kalender Hijriyah ditetapkan pada bulan Muharram. Salah satu hikmahnya adalah karena Muharram datang setelah Dzulhijjah, bulan ketika umat Islam menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah besar tersebut, umat Islam memasuki tahun baru dengan semangat baru untuk memperbaiki diri.

Karena itu, Tahun Baru Hijriyah sangat erat kaitannya dengan hijrah. Setiap memasuki 1 Muharram, umat Islam seharusnya mengingat bahwa hidup harus terus bergerak menuju kebaikan.

Hubungan Hijrah dengan Tahun Baru Hijriyah

Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan dan umur manusia semakin berkurang. Setiap tahun yang berlalu seharusnya membuat seorang Muslim semakin sadar untuk memperbaiki amalnya.

Dalam pembahasan tentang Tahun Baru Islam, kita mengetahui bahwa 1 Muharram adalah momen muhasabah. Dalam pembahasan doa awal dan akhir tahun Hijriyah, kita belajar untuk memohon ampun atas masa lalu dan memohon perlindungan untuk masa depan. Dalam pembahasan bulan Muharram, kita memahami bahwa bulan ini adalah bulan mulia yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh. Dalam pembahasan puasa Tasu’a dan Asyura, kita belajar tentang syukur, pengampunan dosa, dan ketaatan kepada sunnah.

Semua itu berpuncak pada satu pesan besar: hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Hijrah bukan hanya tentang berpindah tempat. Hijrah adalah perubahan hati, perubahan akhlak, perubahan kebiasaan, dan perubahan arah hidup. Seorang Muslim yang memahami makna Tahun Baru Hijriyah akan bertanya kepada dirinya sendiri: “Apa yang harus saya tinggalkan? Kebaikan apa yang harus saya mulai? Dosa apa yang harus saya taubati? Ibadah apa yang harus saya tingkatkan?”

Pelajaran Penting dari Hijrah Nabi Muhammad SAW

Kisah hijrah Nabi Muhammad SAW mengandung banyak pelajaran berharga. Berikut beberapa di antaranya.

1. Iman Membutuhkan Pengorbanan

Para sahabat rela meninggalkan harta, rumah, dan kampung halaman demi menjaga iman. Mereka memahami bahwa iman adalah nikmat terbesar. Dunia bisa dicari kembali, tetapi iman harus dijaga dengan sungguh-sungguh.

Bagikan:

Lainnya di Tokoh

Lihat kategori