Islamind
AllBeritaIbadahKajianTokohUncategorized
Diposting pada 21 Jun 2026Diedit pada 23 Jun 2026

Bagikan:

Sejarah Gunung Kawi: Dari Ziarah Hingga Mitos Pesugihan

Sejarah Gunung Kawi: Dari Ziarah Hingga Mitos Pesugihan

Sering kali masyarakat mencampuradukkan antara ziarah dan praktik mencari kekayaan secara gaib karena keduanya sama-sama berkaitan dengan tempat tertentu yang dianggap memiliki nilai spiritual.

Di beberapa daerah, termasuk kawasan yang memiliki tradisi panjang seperti Gunung Kawi, makam tokoh yang dihormati sering dikunjungi oleh masyarakat dengan berbagai latar belakang. Sebagian datang untuk mengenang sejarah, mendoakan orang yang telah meninggal, atau mencari ketenangan batin.

Namun, ada pula sebagian orang yang datang dengan tujuan berbeda, yaitu berharap mendapatkan keuntungan duniawi melalui cara-cara tertentu yang dikaitkan dengan kekuatan gaib.

Padahal dalam Islam, tujuan, keyakinan, dan cara seseorang melakukan suatu amalan menjadi hal yang sangat penting.

Ziarah Kubur dalam Islam

Ziarah kubur merupakan kegiatan mengunjungi makam dengan tujuan mengingat kematian, mengambil pelajaran, dan mendoakan orang yang telah meninggal.

Rasulullah SAW pernah melarang ziarah kubur pada awal perkembangan Islam karena masyarakat saat itu masih memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan tauhid. Namun setelah pemahaman tentang Islam semakin kuat, Rasulullah SAW memperbolehkannya.

Beliau bersabda:

"Aku dahulu melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada kematian."

(HR. Muslim)

Dari hadits tersebut, dapat dipahami bahwa ziarah memiliki nilai pendidikan spiritual. Seseorang yang berziarah diingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan setiap manusia akan kembali kepada Allah.

Dalam praktiknya, seorang muslim yang berziarah dapat:

  • mendoakan ahli kubur
  • mengingat perjalanan hidup manusia
  • mengambil hikmah dari kehidupan orang-orang terdahulu
  • memperbaiki diri agar lebih dekat kepada Allah

Pesugihan dan Tujuan Mencari Kekayaan

Berbeda dengan ziarah, pesugihan biasanya dikaitkan dengan usaha mendapatkan kekayaan melalui cara-cara yang bersifat gaib.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, pesugihan sering dikaitkan dengan ritual tertentu, permintaan kepada makhluk gaib, atau keyakinan bahwa suatu tempat atau benda memiliki kekuatan khusus untuk mendatangkan kekayaan.

Permasalahan dalam pandangan Islam bukanlah keinginan untuk menjadi kaya, karena memiliki harta bukan sesuatu yang dilarang.

Islam justru menganjurkan umatnya untuk bekerja, berdagang, dan mencari rezeki yang halal.

Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah memiliki kekuasaan untuk memberikan rezeki, menentukan nasib, atau mendatangkan keberuntungan.

Allah berfirman:

"Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya."

(QS. Yunus: 107)

Ayat ini mengingatkan bahwa segala manfaat dan mudarat berada dalam kekuasaan Allah.

Pelajaran dari Fenomena Gunung Kawi

Fenomena Gunung Kawi memberikan beberapa pelajaran penting.

Pertama, manusia memang memiliki keinginan untuk hidup lebih baik. Namun cara mendapatkan sesuatu harus tetap berada dalam jalan yang benar.

Bagikan:

Lainnya di Kajian

Lihat kategori