Islamind
AllBeritaIbadahKajianTokohUncategorized
Diposting pada 11 Jun 2026Diedit pada 13 Jun 2026

Bagikan:

Sejarah Hari Asyura dalam Islam: Peristiwa Penting, Keutamaan, dan Pelajaran yang Bisa Diambil

Sejarah Hari Asyura dalam Islam: Peristiwa Penting, Keutamaan, dan Pelajaran yang Bisa Diambil

Dalam praktiknya, umat Islam dapat berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Sebagian ulama juga membolehkan puasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram, terutama jika seseorang tidak sempat berpuasa pada tanggal 9 Muharram.

Dengan demikian, pilihan puasa yang bisa dilakukan adalah:

  1. Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram
  2. Puasa tanggal 10 dan 11 Muharram
  3. Puasa tanggal 10 Muharram saja, jika tidak mampu menambah hari lain

Meskipun yang paling utama adalah mengiringi puasa Asyura dengan satu hari sebelum atau sesudahnya, seseorang yang hanya mampu berpuasa pada tanggal 10 Muharram tetap mendapatkan keutamaan puasa Asyura, insya Allah.

Baca Juga: Puasa Tasu’a dan Asyura: Jadwal, Niat, Keutamaan, dan Tata Caranya

Peristiwa Penting yang Sering Dikaitkan dengan Hari Asyura

Di tengah masyarakat, ada banyak kisah yang sering dikaitkan dengan Hari Asyura. Sebagian kisah tersebut menyebutkan bahwa pada 10 Muharram terjadi banyak peristiwa besar dalam sejarah para nabi, seperti diterimanya taubat Nabi Adam AS, selamatnya Nabi Nuh AS, dan berbagai kisah lainnya.

Namun, dalam menulis atau menyampaikan kisah-kisah seperti ini, umat Islam perlu berhati-hati. Tidak semua kisah yang populer di masyarakat memiliki dasar riwayat yang kuat. Karena itu, peristiwa yang paling jelas memiliki dasar dalam hadits shahih adalah kisah diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari Fir’aun.

Sikap hati-hati ini penting agar umat Islam tidak mudah menyandarkan suatu kisah kepada agama tanpa dasar yang jelas. Islam mengajarkan kita untuk mencintai sejarah para nabi, tetapi juga mengajarkan ketelitian dalam menerima riwayat.

Dengan demikian, ketika membahas sejarah Hari Asyura, kisah Nabi Musa AS dan Fir’aun dapat dijadikan fokus utama karena memiliki landasan yang kuat dalam hadits shahih.

Makna Hari Asyura bagi Umat Islam

Hari Asyura mengandung banyak makna penting bagi umat Islam. Pertama, Hari Asyura adalah momen untuk mengingat pertolongan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Kisah Nabi Musa AS mengajarkan bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran.

Kedua, Hari Asyura adalah momen untuk memperkuat rasa syukur. Nabi Musa AS berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah. Rasulullah SAW pun mengajarkan umat Islam untuk berpuasa pada hari tersebut. Ini menunjukkan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga perlu diwujudkan dalam amal ibadah.

Ketiga, Hari Asyura mengajarkan pentingnya kesabaran. Nabi Musa AS dan Bani Israil menghadapi tekanan, ancaman, dan ketakutan. Namun, mereka tetap mengikuti perintah Allah. Pada akhirnya, Allah memberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.

Keempat, Hari Asyura mengingatkan bahwa kezaliman pasti akan berakhir. Fir’aun mungkin tampak kuat, tetapi kekuatannya tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah. Ini menjadi pelajaran bahwa kekuasaan, harta, dan kedudukan tidak boleh membuat manusia sombong.

Pelajaran Penting dari Hari Asyura

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari sejarah Hari Asyura. Berikut beberapa di antaranya:

1. Pertolongan Allah Datang kepada Orang yang Beriman

Kisah Nabi Musa AS menunjukkan bahwa pertolongan Allah bisa datang dalam keadaan yang tampak mustahil. Ketika Nabi Musa AS dan Bani Israil berada di tepi laut, secara logika manusia mereka seperti tidak memiliki jalan keluar. Namun, Allah membukakan jalan dengan cara yang tidak terduga.

Pelajaran ini penting bagi setiap Muslim. Dalam hidup, manusia pasti menghadapi ujian. Ada saat ketika masalah terasa sangat berat dan jalan keluar belum terlihat. Namun, seorang Muslim tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Selama tetap beriman, berusaha, dan bertawakal, pertolongan Allah akan datang pada waktu yang terbaik.

2. Syukur Harus Diwujudkan dalam Amal

Nabi Musa AS berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan Allah. Ini mengajarkan bahwa syukur bukan hanya ucapan “alhamdulillah”, tetapi juga harus diwujudkan dalam ketaatan.

Ketika seseorang diberi nikmat kesehatan, maka syukurilah dengan menggunakan tubuh untuk ibadah dan kebaikan. Ketika diberi rezeki, syukurilah dengan cara yang halal dan berbagi kepada sesama. Ketika diberi ilmu, syukurilah dengan mengamalkan dan mengajarkannya.

3. Kesombongan Akan Menghancurkan Manusia

Bagikan:

Lainnya di Kajian

Lihat kategori